Kesetiaan tak kan berarti jika hanya sebuah janji, itulah yang kupahami dari dirimu. Kau tak pernah menduakan aku dengan siapa pun. Karena aku.. adalah rumahmu.
***
Warna
jingga terbentang luas penuhi langit senja, seperti ia mengerti bahwa mentari
akan berpulang keperaduannya. Semilir angin kian membawaku dalam ketenangan
batinku yang merasa sehati dengan pengertian jingga pada mentari, begitulah
adaku untukmu. Aku memang selalu siap menunggumu pulang, entah apapun yang kan
kau bawa, kisah sendu ataukah rindu, kisah cinta ataupun cerita biasa, aku
selalu terima apa adanya dan menikmati setiap alur milikmu.
Ketika kau
pulang, aku menyambutmu dengan ramah dan senyum termanisku. Namun terkadang,
yang kudapati adalah wajah lesumu. Entah mengapa, aku tak tahu. Namun, aku
peduli padamu. Kudengarkan keluhmu tentang orang-orang dunia yang tak mau
mengerti dirimu seperti aku. Kau luapkan emosimu padaku, bahkan kata-kata tak
indah sesekali menamparku. Walau kutahu, sebenarnya ucapan itu tak tertuju
padaku. Tetapi aku pahami itu sebagai semestinya, karena memang tugasku begitu,
menerima apa pun perlakuanmu, dan aku pun telah mengerti itu sejak dulu, sejak kau
memilihku untuk mendampingimu
“Kau tau
tentang tetangga sebelah yang tak pernah mau mengerti jam istirahat? Aku butuh
ketenangan untuk istirahat. Bagaimana aku bisa tenang dengan suaranya yang
memekakkan telingaku? Huh, tetangga menyebalkan!” Sesekali kau tampak lucu
dengan ekspresi cemberutmu. Aku hanya bisa mendengarkanmu saja tanpa memberimu
komentar atau saran apa pun. Yah.. Kau juga tahu itu. Itulah mengapa kita
selalu bersama, karena kita selalu bisa mengerti satu sama lain.
***
Suatu
ketika, kau tampak bahagia. Kutemukan kilau cahaya indah pada mata lentikmu.
Raut wajah ceria yang kau tampakkan, membuatku begitu penasaran dengan apakah
gerangan kisahmu yang baru.
“Dear,
kamu tau gak? Aku seneng banget hari ini. Tahu kenapa? Karena aku bisa
melihat senyum indahnya. Yah, aku tahu bahwa itu hanya sekedar senyuman.
Tapi... walau hanya senyuman, hal itu bisa menyihir hatiku. Hemm.. Bahagia itu
memang sederahana ya, Dear?!” ucapmu penuh kegembiraan.
Sejak saat
itu, kau selalu mengajakku kemanapun kau pergi. Setiap kisah singkat yang kau
alami dengan “orang baru” itu, kau ceritakan setiap saat pula padaku. Yah, kau
tahu apa yang ingin kukomentarkan? Kurasa, engkau mulai mengaguminya. Ah, tapi
aku memang tak pernah bisa berkomentar apa pun.
Kali ini,
kau mulai menggila. Tengah malam pun, kau sulap menjadi seperti waktu
aktivitasmu yang biasa, mengobrol denganku. Memang aku tak pernah mengeluh soal
waktu, namun yang kuhawatirkan adalah dirimu. Namun tetap saja, aku tak dapat
berkomentar apapun. Kali ini, aku bahkan merasa, kau sudah terhipnotis olehnya.
Kau, kau jatuh cinta. Ya, benar. Kau telah jatuh cinta.
Kau
bercerita bahwa dia mengagumkan. Dia adalah bintang di hatimu. Kau katakan
bahwa dia tidak hanya cintamu, tapi juga telah menjadi citamu, dia telah kau
masukkan dalam daftar mimpi-mimpimu. Seperti apakah dia, adakah dia juga
menganggapmu demikian?
***
“Dear,
hatiku seperti dihujam batu besar, pecah berkeping-keping. Telah ada orang lain
yang mengisi hatinya. Aku, aku harus bagaimana Dear? Bagaimana aku hadapi
hatiku yang selalu merana, bagaimana aku tenangkan jiwaku yang tak hentinya
meronta. Dear...” kau terisak tiada henti, butir demi butir kristal bening
berjatuhan, berharap ia mampu tenangkan risaumu. Aku hanya bisa terdiam. Baru
kali ini aku melihatmu begitu rapuh, kau seperti bukan dirimu. Namun aku yakin,
kau akan segera sadari bahwa kau tak seharusnya selalu seperti ini.
Padahal
sudah sejak enam tahun lalu kau selalu berkisah tentang rindu. Kau seperti
telah menjadi pencipta rindu, terkadang kau seakan menyatu dengan rindu. Bahkan
terkadang, kau bilang bahwa dirimu adalah rindu itu sendiri. Entahlah, aku
memang tak pernah mengerti tentang rindu yang ada di benakmu, namun yang kutahu
kau selalu mengadu tentang rindu yang ingin benar-benar pulang, bukan padaku,
tapi pada hatinya.
Namun...
kulihat kegelisahan, kegalauan, dan kesedihan yang menjadi jamuan spesial
wajahmu beberapa bulan ini, telah berubah bak cahaya bulan yang terangi gelap
malam orang yang berkelana ...
“Ry, aku
bukan orang yang rapuh, dan tak akan pernah melepuh. Meski dia tak pernah
mengenal rinduku, namun Tuhan kenal akan rinduku. Dia mengetahui tentang
kepastian, hanya Tuhan yang tahu. Aku percaya, aku dapat temukan hatinya
menoleh, bahkan berpaling pada rinduku suatu saat nanti. Karena aku punya Tuhan
yang mampu membantuku dapatkan hatinya. Benar tidak?” kau mulai bangkit dengan
sisa-sisa tenagamu yang telah terkuras oleh perasaanmu selama ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar