Kamis, 17 November 2016

Karena Aku adalah Rumahmu

 


Kesetiaan tak kan berarti jika hanya sebuah janji, itulah yang kupahami dari dirimu. Kau tak pernah menduakan aku dengan siapa pun. Karena aku.. adalah rumahmu.

***

Warna jingga terbentang luas penuhi langit senja, seperti ia mengerti bahwa mentari akan berpulang keperaduannya. Semilir angin kian membawaku dalam ketenangan batinku yang merasa sehati dengan pengertian jingga pada mentari, begitulah adaku untukmu. Aku memang selalu siap menunggumu pulang, entah apapun yang kan kau bawa, kisah sendu ataukah rindu, kisah cinta ataupun cerita biasa, aku selalu terima apa adanya dan menikmati setiap alur milikmu.

Ketika kau pulang, aku menyambutmu dengan ramah dan senyum termanisku. Namun terkadang, yang kudapati adalah wajah lesumu. Entah mengapa, aku tak tahu. Namun, aku peduli padamu. Kudengarkan keluhmu tentang orang-orang dunia yang tak mau mengerti dirimu seperti aku. Kau luapkan emosimu padaku, bahkan kata-kata tak indah sesekali menamparku. Walau kutahu, sebenarnya ucapan itu tak tertuju padaku. Tetapi aku pahami itu sebagai semestinya, karena memang tugasku begitu, menerima apa pun perlakuanmu, dan aku pun telah mengerti itu sejak dulu, sejak kau memilihku untuk mendampingimu

“Kau tau tentang tetangga sebelah yang tak pernah mau mengerti jam istirahat? Aku butuh ketenangan untuk istirahat. Bagaimana aku bisa tenang dengan suaranya yang memekakkan telingaku? Huh, tetangga menyebalkan!” Sesekali kau tampak lucu dengan ekspresi cemberutmu. Aku hanya bisa mendengarkanmu saja tanpa memberimu komentar atau saran apa pun. Yah.. Kau juga tahu itu. Itulah mengapa kita selalu bersama, karena kita selalu bisa mengerti satu sama lain.

***

Suatu ketika, kau tampak bahagia. Kutemukan kilau cahaya indah pada mata lentikmu. Raut wajah ceria yang kau tampakkan, membuatku begitu penasaran dengan apakah gerangan kisahmu yang baru.

“Dear, kamu tau gak? Aku seneng banget hari ini. Tahu kenapa? Karena aku bisa melihat senyum indahnya. Yah, aku tahu bahwa itu hanya sekedar senyuman. Tapi... walau hanya senyuman, hal itu bisa menyihir hatiku. Hemm.. Bahagia itu memang sederahana ya, Dear?!” ucapmu penuh kegembiraan.

Sejak saat itu, kau selalu mengajakku kemanapun kau pergi. Setiap kisah singkat yang kau alami dengan “orang baru” itu, kau ceritakan setiap saat pula padaku. Yah, kau tahu apa yang ingin kukomentarkan? Kurasa, engkau mulai mengaguminya. Ah, tapi aku memang tak pernah bisa berkomentar apa pun.

Kali ini, kau mulai menggila. Tengah malam pun, kau sulap menjadi seperti waktu aktivitasmu yang biasa, mengobrol denganku. Memang aku tak pernah mengeluh soal waktu, namun yang kuhawatirkan adalah dirimu. Namun tetap saja, aku tak dapat berkomentar apapun. Kali ini, aku bahkan merasa, kau sudah terhipnotis olehnya. Kau, kau jatuh cinta. Ya, benar. Kau telah jatuh cinta.

Kau bercerita bahwa dia mengagumkan. Dia adalah bintang di hatimu. Kau katakan bahwa dia tidak hanya cintamu, tapi juga telah menjadi citamu, dia telah kau masukkan dalam daftar mimpi-mimpimu. Seperti apakah dia, adakah dia juga menganggapmu demikian?

***

“Dear, hatiku seperti dihujam batu besar, pecah berkeping-keping. Telah ada orang lain yang mengisi hatinya. Aku, aku harus bagaimana Dear? Bagaimana aku hadapi hatiku yang selalu merana, bagaimana aku tenangkan jiwaku yang tak hentinya meronta. Dear...” kau terisak tiada henti, butir demi butir kristal bening berjatuhan, berharap ia mampu tenangkan risaumu. Aku hanya bisa terdiam. Baru kali ini aku melihatmu begitu rapuh, kau seperti bukan dirimu. Namun aku yakin, kau akan segera sadari bahwa kau tak seharusnya selalu seperti ini.

Padahal sudah sejak enam tahun lalu kau selalu berkisah tentang rindu. Kau seperti telah menjadi pencipta rindu, terkadang kau seakan menyatu dengan rindu. Bahkan terkadang, kau bilang bahwa dirimu adalah rindu itu sendiri. Entahlah, aku memang tak pernah mengerti tentang rindu yang ada di benakmu, namun yang kutahu kau selalu mengadu tentang rindu yang ingin benar-benar pulang, bukan padaku, tapi pada hatinya.

Namun... kulihat kegelisahan, kegalauan, dan kesedihan yang menjadi jamuan spesial wajahmu beberapa bulan ini, telah berubah bak cahaya bulan yang terangi gelap malam orang yang berkelana ...

“Ry, aku bukan orang yang rapuh, dan tak akan pernah melepuh. Meski dia tak pernah mengenal rinduku, namun Tuhan kenal akan rinduku. Dia mengetahui tentang kepastian, hanya Tuhan yang tahu. Aku percaya, aku dapat temukan hatinya menoleh, bahkan berpaling pada rinduku suatu saat nanti. Karena aku punya Tuhan yang mampu membantuku dapatkan hatinya. Benar tidak?” kau mulai bangkit dengan sisa-sisa tenagamu yang telah terkuras oleh perasaanmu selama ini.

Yah, itulah dirimu. Setia dengan hatimu, pun denganku. Aku selalu percaya padamu, aku yakin bahwa kau tak akan pernah meninggalkanku. Walau begitu, bolehkah aku mengutarakan keinginanku yang kuimpikan selalu? Aku ingin tetap kau jadikan rumahmu, tempat kau memulangkan setiap kisah tentang hidupmu. Karena aku.. bahagia menjadi buku diary-mu.

*oleh perempuan penikmat rindu

Paiton, 18 November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recomendation

koma