Kamis, 17 November 2016

Kado Terindah (Part I)

 Kado Terindah

 


Hari yang cerah, batinku bicara. Aku selalu menunggunya, agar aku dapat memulai aktivitasku yang biasa. Sekolah. Ya, sekolah. Bagiku hal ini adalah penting agar aku dapat menata masa depanku. Walau sebagian teman-temanku berkata, sekolah itu membosankan, sekolah itu cuma buat bikin bete aja, atau apalah semacamnya. Namun yang pasti, sekolah itu tetap kewajiban yang harus kujalani dengan sepenuh hati, itu menurutku. Meski godaan selalu datang hanya untuk menggoyahkan semangatku, tapi aku selalu tak menghiraukannya, karena aku tak mau terlahir sebagai orang yang akan menyesali tentang keacuhanku terhadap diriku sendiri di suatu saat nanti.

Yuni, sahabatku yang sedari tadi kutunggu kedatangannya di teras rumah, tak kunjung datang. Dia memang sedikit lambat, berbeda dariku yang sejak usiaku yang ke tujuh belas, aku berevolusi menjadi muslimah yang gak mau lelet lagi. Meski begitu, dia adalah sahabat terbaikku. Dia selalu menjadi pendengar yang setia atas kisah-kisahku yang sebenarnya sudah dia dengar, bahkan sudah kesekian kalinya.

Ketika kucoba mengingat tentang bagaimana dia adalah sahabat terbaik bagiku sambil sesekali tersenyum, ada suara yang membuyarkan lamunan itu,

“Assalamu’alaikum, Pelamun.. Lagi mikirin aku ya?” Ya, dialah sahabatku Yuni.

“Wa’alaikumussalam, Putri Keong..” dan begitulah pula jawabanku setiap kali dia datang terlambat. Karena tak ingin terlambat ke sekolah, aku langsung masuk ke dalam rumah lagi untuk sekedar berpamitan pada Ibu. Selepas itu, aku dan Yuni berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, karena madrasah kami tak begitu jauh dari rumah.

Lima belas menit kami berjalan, kami sampai di depan gerbang sekolah. Kupandangi papan besar di atas kepalaku, bertuliskan “Madrasah Aliyah Al-Ikhlas.” Aku tersenyum membacanya dan menganggukkan kepala. Ya benar, dari nama sekolahku itu, aku jadi berpikir bahwa aku harus selalu ikhlas atas apa pun yang menjadi ketentuan takdirku. Meski sebenarnya aku tak niat masuk di sekolah ini, karena bukan tempat ini yang sebenarnya kuidamkan. Tapi setidaknya, aku tidak mengecewakan Ibu. Seperti ucapan Ibu yang selalu kuingat, saat aku baru lulus MTS dulu, “jangan sekarang ya, Nak. Ibu masih harus menabung dulu untuk itu, nanti kalau kamu sudah lulus MA, Insya Allah Ibu akan memondokkanmu. Sekarang kamu belajar yang rajin di sini.”

@@@

Sepuluh menit sebelum bel. Aku sampai di depan kelas. “Kelas dua belas,” sebut Yuni setelah melihat nama kelas di papan kecil berukuran 15x5 sentimeter yang tergantung di sebelah kiri pintu kelas itu, lalu kembali berujar entah apa, sebab aku sibuk sendiri dengan pikiranku. Benar, ini kelas dua belas, sebentar lagi aku akan mondok ke pesantren. Aku tersenyum lebar, tetapi ada tangan yang kemudian melambai di depan wajahku.

“Hello Aisyah.. Kamu bengong lagi ya? Lagi mikirin apa sih? Jangan bilang, lagi mikirin Akhi Syafiq yang sejak kelas sebelas dulu dia ngajar les bahasa Arab di sini ya?” Tanya Yuni menggoda dan membuat lamuanku kembali buyar.

“A..apa? Kamu tadi bilang apa?” Aku pura-pura tak mendengar ucapannya. Aku takut Yuni akan mencurigai sikapku yang seperti kaget bukan main setelah menyebut nama tadi. Dia tak boleh tahu yang sebenarnya. Hanya aku dan Allah saja.

“Eh, kamu bener gak denger atau pura-pura aja sih? Ayo ngaku...” Yuni memaksaku dengan gaya menggodanya lagi, dengan memberikan sedikit cubitan di pipi chubby-ku.

“Apa sih, kelakuannya godain orang terus gitu. Capek deh!” Aku menaruh punggung tanganku di depan dahiku, mengalihkan pembahasan.

Yuni tertawa kecil melihatku yang selalu ‘kalah’ dengan sikapnya.

@@@

Kriiiing... Bel tanda usainya pelajaran terakhir telah menjelma aroma bahagia, karena itu artinya, semua siswa dan siswi sudah boleh pulang. Dan karena itu, Pak Ruslan, guru materi terakhirku mengakhiri pelajaran dan menyuruh kami berkemas rapi.

Sambil berkemas, aku memandangi sebentar buku paketku, kubaca tulisan yang paling besar pada cover buku itu. SOSIOLOGI. Dan karena membaca itu, lagi-lagi aku berpikir bahwa di sekolahku ini hanya ada satu jurusan, yakni IPS. Bukan Keagamaan, yang kudambakan sejak di Madrasah Tsanawiyah dulu. Aku ingin masuk di Madrasah Aliyah dan mengambil Jurusan Keagamaan. Tapi, semua itu tak tercapai karena Ibu tak sanggup untuk memberangkatkanku ke pondok pesantren yang madrasahnya juga menyediakan jurusan itu. Bukan karena Ibu tak ingin melakukan itu, hanya karena sejak Ayah meninggalkan kami semua di usiaku yang ke sembilan tahun, Ibu jadi kurang begitu sanggup jika harus membiayaiku sekolah sekaligus mondok di pesantren yang kuidamkan.

Setelah membaca doa bersama, teman-teman keluar kelas, tentunya didahului oleh guru, lalu siswi-siswi, dan baru kemudian siswa-siswa mendapat giliran keluar paling akhir. Begitulah peraturannya, seperti yang diperintahkan Bapak kepala madrasah, agar antara siswa dan siswi tidak berhamburan keluar seperti lazimnya anak SMA-an.

@@@

Kegiatanku sehari-hari adalah membantu Ibu membersihkan rumah, memasak, membuat kue untuk di jual dan dititipkan di toko-toko, dan sehabis itu belajar. Tak ada yang dapat kulakukan selain membantu ibu mempersiapkan segala sesuatu untuk menjemput rezeki yang telah ditakdirkan untuk kita, berapa pun itu, yang selalu kupinta pada Allah hanyalah keberkahan. Tapi, di sore hari, aku masih belajar di Madrasah Diniyah di tempat kiai Ghaffar, Yayasan lain dekat Madrasah Aliyahku. Beliau hanya membangun madrasah sampai tingkat Madrasah Tsanawiyah, tempat aku menamatkan sekolah menengah pertamaku. Itulah mengapa aku pindah ke Yayasan berbeda yang hanya terdiri dari Madrasah Aliyah saja. Tempat sekolahku saat ini. Artinya, sekalipun aku tak mondok, tapi aku punya sedikit dasar ilmu agama seperti yang sangat aku ingin dalami di pondok pesantren dan di MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan) itu.

Namun entah ada apa, hari ini aku teringat kembali dengan Akhi yang disebut oleh Yuni pagi tadi di sekolah. Memang dia selalu datang dalam pikirku setiap hari sejak aku kelas dua belas, namun aku selalu menepisnya, karena aku merasa aku tak pantas memikirkannya. Tidak, tak boleh seperti itu. Astaghfirullah.

@@@

Seperti biasa, aku terjaga ketika jam dinding di rumah tetangga berbunyi dua kali, itu artinya waktuku yang paling istimewa untuk bermunajat kepada-Nya telah sampai. Aku membasuh mukaku dengan air wudu. Kemudian menggelar sajadah di tengah keheningan malam, karena tak banyak orang yang terjaga di waktu seperti itu.

Setelah shalat aku membaca istighfar dan bershalawat untuk nabi masing-masing 1000 kali, lalu berdoa dengan penuh pengharapan,

“Ya, Allah.. Hamba-Mu yang hina datang kepada-Mu. Memohon ampun atas segala dosa-dosa pribadi dan dosa kedua orang tua hamba, keluarga hamba, guru-guru hamba, tema-teman hamba, dan seluruh umat muslimin baik laki-laki maupun perempuan dari bumi belahan timur sampai belahan barat yang masih hidup atau pun yang telah mendahului kami bertemu dengan-Mu.

Ya, Allah... Hamba sangat ingin mempelajari ilmu agama dengan sangat mendalam di pondok pesantren dan di MAK. Jika menurut-Mu, “bukan itu jalan bagimu saat ini”, maka hamba terima sebagai bagian dari takdir-Mu, ya Allah. Namun, hamba akan tetap memohon kepada Engkau untuk memperkenankan harapan hamba yang sudah sejak kecil dulu hamba dambakan. Hamba percaya bahwa Engkau pasti mengabulkannya, namun Engkau masih memilihkan waktu yang terbaik bagi hamba. Hamba akan terus memohon dan menunggu. Jika tidak hari ini, maka besok. Jika tidak besok, maka lusa, dan seterusnya. Dan jika bukan hal itu sekalipun, maka yang lain yang lebih baik menurut-Mu.

Ya, Allah... Dan untuk hal yang satu ini, hamba memang merasa ini tidak seharusnya hamba lakukan. Namun, hamba benar-benar mengaguminya. Akhlaknya yang begitu indah, membuat hamba tak hentinya mengucap tasbih, subhanallah. Bagaimana dia mempelajari ilmu-Mu dengan semangat api, membuat hamba terinspirasi dan termotivasi. Jika hamba boleh memohon, hamba ingin bersama dia di suatu hari kelak, belajar padanya, berjuang bersamanya untuk terus berupaya mencapai rahmat-Mu dan merasakan cinta-Mu. Akan tetapi, untuk saat ini, jagalah hati hamba tetap lebih mencintai Engkau. Menjadikan Engkau yang paling utama dari segalanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recomendation

koma