Kado Terindah
Hari
yang cerah, batinku bicara. Aku
selalu menunggunya, agar aku dapat memulai aktivitasku yang biasa. Sekolah. Ya,
sekolah. Bagiku hal ini adalah penting agar aku dapat menata masa depanku.
Walau sebagian teman-temanku berkata, sekolah itu membosankan, sekolah itu cuma
buat bikin bete aja, atau apalah semacamnya. Namun yang pasti, sekolah itu
tetap kewajiban yang harus kujalani dengan sepenuh hati, itu menurutku. Meski
godaan selalu datang hanya untuk menggoyahkan semangatku, tapi aku selalu tak
menghiraukannya, karena aku tak mau terlahir sebagai orang yang akan menyesali
tentang keacuhanku terhadap diriku sendiri di suatu saat nanti.
Yuni,
sahabatku yang sedari tadi kutunggu kedatangannya di teras rumah, tak kunjung
datang. Dia memang sedikit lambat, berbeda dariku yang sejak usiaku yang ke
tujuh belas, aku berevolusi menjadi muslimah yang gak mau lelet lagi. Meski
begitu, dia adalah sahabat terbaikku. Dia selalu menjadi pendengar yang setia
atas kisah-kisahku yang sebenarnya sudah dia dengar, bahkan sudah kesekian
kalinya.
Ketika
kucoba mengingat tentang bagaimana dia adalah sahabat terbaik bagiku sambil
sesekali tersenyum, ada suara yang membuyarkan lamunan itu,
“Assalamu’alaikum,
Pelamun.. Lagi mikirin aku ya?” Ya, dialah sahabatku Yuni.
“Wa’alaikumussalam,
Putri Keong..” dan begitulah pula jawabanku setiap kali dia datang terlambat.
Karena tak ingin terlambat ke sekolah, aku langsung masuk ke dalam rumah lagi
untuk sekedar berpamitan pada Ibu. Selepas itu, aku dan Yuni berangkat ke
sekolah dengan berjalan kaki, karena madrasah kami tak begitu jauh dari rumah.
Lima
belas menit kami berjalan, kami sampai di depan gerbang sekolah. Kupandangi
papan besar di atas kepalaku, bertuliskan “Madrasah Aliyah Al-Ikhlas.” Aku
tersenyum membacanya dan menganggukkan kepala. Ya benar, dari nama sekolahku
itu, aku jadi berpikir bahwa aku harus selalu ikhlas atas apa pun yang
menjadi ketentuan takdirku. Meski sebenarnya aku tak niat masuk di sekolah ini,
karena bukan tempat ini yang sebenarnya kuidamkan. Tapi setidaknya, aku tidak
mengecewakan Ibu. Seperti ucapan Ibu yang selalu kuingat, saat aku baru lulus
MTS dulu, “jangan sekarang ya, Nak. Ibu masih harus menabung dulu untuk itu,
nanti kalau kamu sudah lulus MA, Insya Allah Ibu akan memondokkanmu.
Sekarang kamu belajar yang rajin di sini.”
@@@
Sepuluh
menit sebelum bel. Aku sampai di depan kelas. “Kelas dua belas,” sebut Yuni
setelah melihat nama kelas di papan kecil berukuran 15x5 sentimeter yang
tergantung di sebelah kiri pintu kelas itu, lalu kembali berujar entah apa,
sebab aku sibuk sendiri dengan pikiranku. Benar, ini kelas dua belas,
sebentar lagi aku akan mondok ke pesantren. Aku tersenyum lebar, tetapi ada
tangan yang kemudian melambai di depan wajahku.
“Hello
Aisyah.. Kamu bengong lagi ya? Lagi mikirin apa sih? Jangan bilang, lagi
mikirin Akhi Syafiq yang sejak kelas sebelas dulu dia ngajar les bahasa Arab di
sini ya?” Tanya Yuni menggoda dan membuat lamuanku kembali buyar.
“A..apa?
Kamu tadi bilang apa?” Aku pura-pura tak mendengar ucapannya. Aku takut Yuni
akan mencurigai sikapku yang seperti kaget bukan main setelah menyebut nama
tadi. Dia tak boleh tahu yang sebenarnya. Hanya aku dan Allah saja.
“Eh,
kamu bener gak denger atau pura-pura aja sih? Ayo ngaku...” Yuni memaksaku
dengan gaya menggodanya lagi, dengan memberikan sedikit cubitan di pipi chubby-ku.
“Apa
sih, kelakuannya godain orang terus gitu. Capek deh!” Aku menaruh punggung
tanganku di depan dahiku, mengalihkan pembahasan.
Yuni
tertawa kecil melihatku yang selalu ‘kalah’ dengan sikapnya.
@@@
Kriiiing...
Bel tanda usainya pelajaran terakhir telah menjelma aroma bahagia, karena itu
artinya, semua siswa dan siswi sudah boleh pulang. Dan karena itu, Pak Ruslan,
guru materi terakhirku mengakhiri pelajaran dan menyuruh kami berkemas rapi.
Sambil
berkemas, aku memandangi sebentar buku paketku, kubaca tulisan yang paling
besar pada cover buku itu. SOSIOLOGI. Dan karena membaca itu, lagi-lagi
aku berpikir bahwa di sekolahku ini hanya ada satu jurusan, yakni IPS. Bukan
Keagamaan, yang kudambakan sejak di Madrasah Tsanawiyah dulu. Aku ingin masuk
di Madrasah Aliyah dan mengambil Jurusan Keagamaan. Tapi, semua itu tak tercapai
karena Ibu tak sanggup untuk memberangkatkanku ke pondok pesantren yang
madrasahnya juga menyediakan jurusan itu. Bukan karena Ibu tak ingin melakukan
itu, hanya karena sejak Ayah meninggalkan kami semua di usiaku yang ke sembilan
tahun, Ibu jadi kurang begitu sanggup jika harus membiayaiku sekolah sekaligus
mondok di pesantren yang kuidamkan.
Setelah
membaca doa bersama, teman-teman keluar kelas, tentunya didahului oleh guru,
lalu siswi-siswi, dan baru kemudian siswa-siswa mendapat giliran keluar paling
akhir. Begitulah peraturannya, seperti yang diperintahkan Bapak kepala
madrasah, agar antara siswa dan siswi tidak berhamburan keluar seperti lazimnya
anak SMA-an.
@@@
Kegiatanku
sehari-hari adalah membantu Ibu membersihkan rumah, memasak, membuat kue untuk
di jual dan dititipkan di toko-toko, dan sehabis itu belajar. Tak ada yang
dapat kulakukan selain membantu ibu mempersiapkan segala sesuatu untuk
menjemput rezeki yang telah ditakdirkan untuk kita, berapa pun itu, yang selalu
kupinta pada Allah hanyalah keberkahan. Tapi, di sore hari, aku masih belajar
di Madrasah Diniyah di tempat kiai Ghaffar, Yayasan lain dekat Madrasah
Aliyahku. Beliau hanya membangun madrasah sampai tingkat Madrasah Tsanawiyah,
tempat aku menamatkan sekolah menengah pertamaku. Itulah mengapa aku pindah ke
Yayasan berbeda yang hanya terdiri dari Madrasah Aliyah saja. Tempat sekolahku
saat ini. Artinya, sekalipun aku tak mondok, tapi aku punya sedikit
dasar ilmu agama seperti yang sangat aku ingin dalami di pondok pesantren dan
di MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan) itu.
Namun
entah ada apa, hari ini aku teringat kembali dengan Akhi yang disebut oleh Yuni
pagi tadi di sekolah. Memang dia selalu datang dalam pikirku setiap hari sejak
aku kelas dua belas, namun aku selalu menepisnya, karena aku merasa aku tak
pantas memikirkannya. Tidak, tak boleh seperti itu. Astaghfirullah.
@@@
Seperti
biasa, aku terjaga ketika jam dinding di rumah tetangga berbunyi dua kali, itu
artinya waktuku yang paling istimewa untuk bermunajat kepada-Nya telah sampai.
Aku membasuh mukaku dengan air wudu. Kemudian menggelar sajadah di tengah
keheningan malam, karena tak banyak orang yang terjaga di waktu seperti itu.
Setelah
shalat aku membaca istighfar dan bershalawat untuk nabi masing-masing 1000
kali, lalu berdoa dengan penuh pengharapan,
“Ya,
Allah.. Hamba-Mu yang hina datang kepada-Mu. Memohon ampun atas segala
dosa-dosa pribadi dan dosa kedua orang tua hamba, keluarga hamba, guru-guru
hamba, tema-teman hamba, dan seluruh umat muslimin baik laki-laki maupun
perempuan dari bumi belahan timur sampai belahan barat yang masih hidup atau
pun yang telah mendahului kami bertemu dengan-Mu.
Ya,
Allah... Hamba sangat ingin mempelajari ilmu agama dengan sangat mendalam di
pondok pesantren dan di MAK. Jika menurut-Mu, “bukan itu jalan bagimu saat
ini”, maka hamba terima sebagai bagian dari takdir-Mu, ya Allah. Namun, hamba
akan tetap memohon kepada Engkau untuk memperkenankan harapan hamba yang sudah
sejak kecil dulu hamba dambakan. Hamba percaya bahwa Engkau pasti mengabulkannya,
namun Engkau masih memilihkan waktu yang terbaik bagi hamba. Hamba akan terus
memohon dan menunggu. Jika tidak hari ini, maka besok. Jika tidak besok, maka
lusa, dan seterusnya. Dan jika bukan hal itu sekalipun, maka yang lain yang
lebih baik menurut-Mu.
Ya,
Allah... Dan untuk hal yang satu ini, hamba memang merasa ini tidak seharusnya
hamba lakukan. Namun, hamba benar-benar mengaguminya. Akhlaknya yang begitu
indah, membuat hamba tak hentinya mengucap tasbih, subhanallah. Bagaimana dia
mempelajari ilmu-Mu dengan semangat api, membuat hamba terinspirasi dan
termotivasi. Jika hamba boleh memohon, hamba ingin bersama dia di suatu hari
kelak, belajar padanya, berjuang bersamanya untuk terus berupaya mencapai
rahmat-Mu dan merasakan cinta-Mu. Akan tetapi, untuk saat ini, jagalah hati
hamba tetap lebih mencintai Engkau. Menjadikan Engkau yang paling utama
dari segalanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar