Jumat, 18 November 2016

Kado Terindah (Part II)

 


@@@

“Assalamu’alaikum, permisi. Ada yang mau membeli majalah terbitan Darul Hikmah? Bak Aisyah mau beli bak?” Salah seorang anggota OSIS menawarkanku majalah, karena seperti biasa aku adalah pelanggannya, sejak kelas sepuluh, bergabung di keanggotaan OSIS, hingga ‘pensiun’ karena sudah kelas dua belas yang tentunya harus fokus pada ujian akhir yang silih berganti sebagai syarat pelulusan. Anak OSIS itu, dik Fitri. Adik kelasku.

“Wa’alaikumussalam. Iya, silakan masuk, Dek. Boleh mbak lihat dulu majalahnya sebentar?” jawabku yang sedikit penasaran karena yayasan yang dek Fitri sebut tadi adalah tempat seseorang yang kugagumi  mengabdi.

“Ada puisi karya Akhi Rahman yang ngajar kursus bahasa Arab di sini loh Mbak? Dia itu memang gak cuma lihai di bahasa Arabnya saja, tapi dia juga seorang penyair. Hebat!”

“Iya dek. Puisinya memang bagus-bagus. Selalu terbit di majalah terbitan Yayasan Darul Hikmah, baik terbitan dari pondoknya, terbitan kampusnya, dan bahkan terbitan sekolahnya waktu dia belum jadi mahasiswa, juga ada. Majalah luar pondok juga loh!”

“Oh.. jadi Mbak memang salah satu penggemar karyanya ya, bak? Wah.. Kalau benar begitu, saya punya buku antologi puisinya sewaktu masih MA dulu? Mbak mau?”

“Sungguh? Mbak memang sepertinya belum ngarsip deh. Kalau adek berkenan kasih ke Mbak, dengan senang hati Mbak akan menerimanya secara cuma-cuma. Tapi, bayar sekalipun juga gak apa-apa kok.. Hehe.”

“Oh, ngak lah Mbak. Buat bak Aisyah, gratis kok dari Fitri. Kan bak Aisyah udah bantu Fitri banyak hal. Mulai dari tanya pelajaran yang kurang paham, tanya ini-itu, dan belum lagi minta dibimbing segala macam mengenai OSIS atau lainnya. Jadi, anggap ini adalah ucapan terima kasih Fitri buat mbak Aisyah. Oke?”

“Tapi, itu kan memang sudah menjadi kewajiban Mbak sebagai yang sudah lebih dulu belajar dan berpengalaman, seperti kalian menyebut kita, kak senior.”

“Ngak. Bak Aisyah gak boleh nolak. Masak sama junior sendiri gitu sih? Ayolah bak, kan cuma buku antologi. Aku bisa pinjam ke bak Mbak Feni kok.”

“Punya yang sama?”

“Iya bak. Karena waktu itu, pas kak Fikri, kakakku, ada di rumah, dia bawa tiga buku antologi itu. Buat aku, bak Feni dan buat kak Fikri sendiri. Katanya sih, karya temennya yang paling kece.. Hihi. Ternyata orang yang kakakku maksud malah jadi tutor kita di sini. Jadi gak cuma denger, tapi liat langsung di ‘TKP’. Kece karyanya. dan, orangnya juga ternyata, hehe. Jadi bahas dia ke sana ya? Ya udah, besok antologinya Fitri bawa ya Mbak. Dan majalah yang di tangan Mbak, mau diambil?”

“Oh. Iya, iya. Berapa harga majalah ini?

“7000 Mbak, minggu depan terakhir.”

“Oke kalau begitu, Mbak ambil. Minggu depan ya..? Makasih, Dek. Dan terima kasih juga sebelumnya atas buku antologinya.”

“Sama-sama, bak Aisyah. Assalamu’alaikum.”

“Walaikumussalam.”

                                                                            @@@

Setiba di rumah, kucoba nikmati dan kubaca antologi puisi yang kudapat hari ini. Namun tiba-tiba, hatiku seperti terkesiap dan perlahan terasa nyeri. Untuk yang memiliki tanggal lahir 21 Mei 1995. Karenamu, sajak ini terlahir. Begitulah yang tertulis di lembar awal sebelum lembar demi lembar puisi disajikan. Ternyata, sudah ada yang mengisi ruang kosong di hatinya. Entah mengapa seolah batu besar menghujam, tepat di dadaku. Aku hanya bisa ber-istighfar dan bershalawat berharap sakit itu akan hilang. Namun tetap saja, perasaan itu tak hilang. Hanya sedikit mereda. Kupasrahkan semua ini pada-Mu, ya Allah...

Pelulusan sudah diumumkan dan ternyata semua siswa kelas dua belas MA Al-Ikhlas dinyatakan lulus. Kami menangis haru penuh syukur. Alhamdulillah, berkali-kali ucapan itu terlukis dari bibir kami.

Aku telah lulus, Ibu berjanji memberikan kado ketika aku lulus. Apa kira-kira ya? Pikiranku tak henti menerkanya. Aku cepat-cepat pulang untuk memberitahu kabar baik ini. Setibanya di rumah, orang-orang terlihat berkerumun di depan rumah, dan ada bendera kuning berkibar di sana. Oh tidak...

“Ibu...” aku berlari di antara kerumunan, menerobos, hingga sampailah aku di pintu. Kutemukan sebuah tubuh berbalut sampir terbujur kaku di sana. Aku mendekatinya perlahan. Bulir bening yang basah seketika dengan derasnya jatuh dari kedua kristal mataku, seperti hujan daerah tropis, begitu lebat tiada henti.

“Ibu.. Bangun, Ibu. Aisyah membawa kabar baik buat ibu.. Bu, Aisyah lulus Bu. Aisyah Lulus. Ibu janji mau kasih kado ke Aisyah.. Ayo Bu, Aisyah ingin tahu.”

“Biasanya Ibu selalu menunggu Aisyah pulang di luar. Kenapa sekarang Ibu hanya tiduran di sini? Atau Ibu belum punya kadonya ya? Ngak apa-apa kok Bu.. Gak harus sekarang kan?” Kugoyang-goyangkan tubuh Ibu, berharap dia bangun. Tapi, kepalaku terasa pening seketika. Dan kemudian, gelap.

@@@

Kurasakan tangan kananku hangat karena genggaman lembut, seperti biasanya ketika aku sakit. Pasti itu Ibu. “Ibu...” kucoba untuk bergeming dan memanggil nama Ibu. Kubuka mataku perlahan. Namun... suara lelaki terdengar jelas di telingaku, sebelum mataku benar-benar terbuka.

“Kamu gak papa, Sayang?” Kucoba memandanginya yang terlihat kurang jelas. Ayahkah? Ah, Tidak mungkin. Kugosok mataku dengan tangan kiriku. Dan ternyata...

S...sampean?” ucapku keheranan karena wajahnya yang tak asing. “Iya, ini saya Masmu, Rahman,” jawabnya. “Maksud sampean?” tanyaku heran, sambil menarik tanganku yang digenggam olehnya, kita bukan mahram, batinku.

“Begini dik Aisyah, sayang..” Sayang? Benarkah yang kudengar? “Ibumu kemarin ke rumah, beliau mengutarakan bahwa ingin memberi kado terindah untukmu. Namun sebelumnya, beliau bercerita bahwa ia dengan sengaja telah lancang membaca buku diary-mu, ibumu hanya ingin tahu keinginanmu, karena sudah sejak tiga tahun ini kau menjadi lebih tertutup. Namun, ibumu selalu mendengar kau menangis dalam sujudmu di tengah malam, bahkan sebelum beliau terjaga. Itu artinya kau mengadu sesuatu pada Tuhan. Dan Ibumu penasaran. Makanya, beliau melakukan hal itu.” Aku hanya menjawab, “lalu?” karena aku tak mengerti alur yang sesungguhnya. Akhi Syafiq melanjutkan.

“Maka dari itu, untuk memenuhi keinginan terbesarmu, yang akan dia jadikan sebagai kado untukmu, dia menyerahkan dan memasrahkanmu pada kami.”

“Menyerahkan dan memasrahkanku?”

“Iya. Beliau meminta keluarga kami untuk menikahkan Kakak dengan kamu, dan kami pun setuju. Karena sebenarnya, sejak Kakak mulai menjadi tutor di sekolahmu, Kakak melihat salah seorang siswi yang berbeda dari lainnya. Dia semangat, gigih, beretika baik dan sepertinya bercita-cita luhur. Itulah kamu, Dik. Jadi, kakak mulai tertarik padamu sejak itu, dan berjanji akan menunggumu selesai dengan pendidikanmu. Dan ternyata tak perlu menunggu waktu lama, takdir itu telah menyapa.

Dan untuk citamu yang ingin memperdalam ilmu agama. Menurut Ibumu, kakak sudah cukup mampu mengajarimu hal itu, atau bahkan jika kamu ingin melanjutkan kuliah, beliau sudah pasrah seutuhnya pada Kakak. Jadi, dua hari lalu, tepat tanggal 21 Mei 2016, pelulusanmu, akad nikah digelar di rumah ini. Ibumu sebenarnya menantimu pulang di luar bersama Kakak. Tapi beliau, pamit ke dalam untuk shalat Dhuha, “mumpung masih jam sepuluh,” begitu katanya. Dan setelah jam 11, kakak mulai gelisah karena ibumu tak kunjung keluar. Jadi, kakak mengeceknya, dan beliau sedang sujud di kamarnya. Karena sepuluh menit tetap tak kunjung keluar, Kakak menghampirinya yang dalam keadaan sujud dan... innalillahi wainna ilaihi raji’un.. Ibumu telah meninggal dunia dalam keadaan sangat baik dan Insyaallah khusnul khatimah, Dik.”

Aku hanya bisa menangis antara sedih dan bahagia. Sedih karena mulai saat ini aku akan menjalani hidup tanpa Ibu yang sangat sabar. Dan bahagia, karena kurasa Ibu sudah sangat bahagia di sisi-Nya, serta bahagia mendapat kado terindah dari Ibu, yaitu Mas Rahman dan juga dapat belajar agama mendalam sekalipun bukan di pondok pesantren langsung. Ini benar-benar kado terindah yang pernah Ibu berikan padaku. Terima kasih, Ibu..

Ya, Allah.. Aku sangat meyakini bahwa Engkau memberikan apa yang kami butuhkan. Belum tentu yang baik menurut hamba adalah baik bagi-Mu, dan juga belum tentu yang buruk menurut hamba adalah yang buruk menurut-Mu. Semua karena Engkau yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Kuhaturkan terima kasih, ya Allah.



_The End_

Kamis, 17 November 2016

Karena Aku adalah Rumahmu

 


Kado Terindah (Part I)

 Kado Terindah

 


Hari yang cerah, batinku bicara. Aku selalu menunggunya, agar aku dapat memulai aktivitasku yang biasa. Sekolah. Ya, sekolah. Bagiku hal ini adalah penting agar aku dapat menata masa depanku. Walau sebagian teman-temanku berkata, sekolah itu membosankan, sekolah itu cuma buat bikin bete aja, atau apalah semacamnya. Namun yang pasti, sekolah itu tetap kewajiban yang harus kujalani dengan sepenuh hati, itu menurutku. Meski godaan selalu datang hanya untuk menggoyahkan semangatku, tapi aku selalu tak menghiraukannya, karena aku tak mau terlahir sebagai orang yang akan menyesali tentang keacuhanku terhadap diriku sendiri di suatu saat nanti.

Yuni, sahabatku yang sedari tadi kutunggu kedatangannya di teras rumah, tak kunjung datang. Dia memang sedikit lambat, berbeda dariku yang sejak usiaku yang ke tujuh belas, aku berevolusi menjadi muslimah yang gak mau lelet lagi. Meski begitu, dia adalah sahabat terbaikku. Dia selalu menjadi pendengar yang setia atas kisah-kisahku yang sebenarnya sudah dia dengar, bahkan sudah kesekian kalinya.

Ketika kucoba mengingat tentang bagaimana dia adalah sahabat terbaik bagiku sambil sesekali tersenyum, ada suara yang membuyarkan lamunan itu,

“Assalamu’alaikum, Pelamun.. Lagi mikirin aku ya?” Ya, dialah sahabatku Yuni.

“Wa’alaikumussalam, Putri Keong..” dan begitulah pula jawabanku setiap kali dia datang terlambat. Karena tak ingin terlambat ke sekolah, aku langsung masuk ke dalam rumah lagi untuk sekedar berpamitan pada Ibu. Selepas itu, aku dan Yuni berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, karena madrasah kami tak begitu jauh dari rumah.

Lima belas menit kami berjalan, kami sampai di depan gerbang sekolah. Kupandangi papan besar di atas kepalaku, bertuliskan “Madrasah Aliyah Al-Ikhlas.” Aku tersenyum membacanya dan menganggukkan kepala. Ya benar, dari nama sekolahku itu, aku jadi berpikir bahwa aku harus selalu ikhlas atas apa pun yang menjadi ketentuan takdirku. Meski sebenarnya aku tak niat masuk di sekolah ini, karena bukan tempat ini yang sebenarnya kuidamkan. Tapi setidaknya, aku tidak mengecewakan Ibu. Seperti ucapan Ibu yang selalu kuingat, saat aku baru lulus MTS dulu, “jangan sekarang ya, Nak. Ibu masih harus menabung dulu untuk itu, nanti kalau kamu sudah lulus MA, Insya Allah Ibu akan memondokkanmu. Sekarang kamu belajar yang rajin di sini.”

@@@

Sepuluh menit sebelum bel. Aku sampai di depan kelas. “Kelas dua belas,” sebut Yuni setelah melihat nama kelas di papan kecil berukuran 15x5 sentimeter yang tergantung di sebelah kiri pintu kelas itu, lalu kembali berujar entah apa, sebab aku sibuk sendiri dengan pikiranku. Benar, ini kelas dua belas, sebentar lagi aku akan mondok ke pesantren. Aku tersenyum lebar, tetapi ada tangan yang kemudian melambai di depan wajahku.

“Hello Aisyah.. Kamu bengong lagi ya? Lagi mikirin apa sih? Jangan bilang, lagi mikirin Akhi Syafiq yang sejak kelas sebelas dulu dia ngajar les bahasa Arab di sini ya?” Tanya Yuni menggoda dan membuat lamuanku kembali buyar.

“A..apa? Kamu tadi bilang apa?” Aku pura-pura tak mendengar ucapannya. Aku takut Yuni akan mencurigai sikapku yang seperti kaget bukan main setelah menyebut nama tadi. Dia tak boleh tahu yang sebenarnya. Hanya aku dan Allah saja.

“Eh, kamu bener gak denger atau pura-pura aja sih? Ayo ngaku...” Yuni memaksaku dengan gaya menggodanya lagi, dengan memberikan sedikit cubitan di pipi chubby-ku.

“Apa sih, kelakuannya godain orang terus gitu. Capek deh!” Aku menaruh punggung tanganku di depan dahiku, mengalihkan pembahasan.

Yuni tertawa kecil melihatku yang selalu ‘kalah’ dengan sikapnya.

@@@

Kriiiing... Bel tanda usainya pelajaran terakhir telah menjelma aroma bahagia, karena itu artinya, semua siswa dan siswi sudah boleh pulang. Dan karena itu, Pak Ruslan, guru materi terakhirku mengakhiri pelajaran dan menyuruh kami berkemas rapi.

Sambil berkemas, aku memandangi sebentar buku paketku, kubaca tulisan yang paling besar pada cover buku itu. SOSIOLOGI. Dan karena membaca itu, lagi-lagi aku berpikir bahwa di sekolahku ini hanya ada satu jurusan, yakni IPS. Bukan Keagamaan, yang kudambakan sejak di Madrasah Tsanawiyah dulu. Aku ingin masuk di Madrasah Aliyah dan mengambil Jurusan Keagamaan. Tapi, semua itu tak tercapai karena Ibu tak sanggup untuk memberangkatkanku ke pondok pesantren yang madrasahnya juga menyediakan jurusan itu. Bukan karena Ibu tak ingin melakukan itu, hanya karena sejak Ayah meninggalkan kami semua di usiaku yang ke sembilan tahun, Ibu jadi kurang begitu sanggup jika harus membiayaiku sekolah sekaligus mondok di pesantren yang kuidamkan.

Setelah membaca doa bersama, teman-teman keluar kelas, tentunya didahului oleh guru, lalu siswi-siswi, dan baru kemudian siswa-siswa mendapat giliran keluar paling akhir. Begitulah peraturannya, seperti yang diperintahkan Bapak kepala madrasah, agar antara siswa dan siswi tidak berhamburan keluar seperti lazimnya anak SMA-an.

@@@

Kegiatanku sehari-hari adalah membantu Ibu membersihkan rumah, memasak, membuat kue untuk di jual dan dititipkan di toko-toko, dan sehabis itu belajar. Tak ada yang dapat kulakukan selain membantu ibu mempersiapkan segala sesuatu untuk menjemput rezeki yang telah ditakdirkan untuk kita, berapa pun itu, yang selalu kupinta pada Allah hanyalah keberkahan. Tapi, di sore hari, aku masih belajar di Madrasah Diniyah di tempat kiai Ghaffar, Yayasan lain dekat Madrasah Aliyahku. Beliau hanya membangun madrasah sampai tingkat Madrasah Tsanawiyah, tempat aku menamatkan sekolah menengah pertamaku. Itulah mengapa aku pindah ke Yayasan berbeda yang hanya terdiri dari Madrasah Aliyah saja. Tempat sekolahku saat ini. Artinya, sekalipun aku tak mondok, tapi aku punya sedikit dasar ilmu agama seperti yang sangat aku ingin dalami di pondok pesantren dan di MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan) itu.

Namun entah ada apa, hari ini aku teringat kembali dengan Akhi yang disebut oleh Yuni pagi tadi di sekolah. Memang dia selalu datang dalam pikirku setiap hari sejak aku kelas dua belas, namun aku selalu menepisnya, karena aku merasa aku tak pantas memikirkannya. Tidak, tak boleh seperti itu. Astaghfirullah.

@@@

Seperti biasa, aku terjaga ketika jam dinding di rumah tetangga berbunyi dua kali, itu artinya waktuku yang paling istimewa untuk bermunajat kepada-Nya telah sampai. Aku membasuh mukaku dengan air wudu. Kemudian menggelar sajadah di tengah keheningan malam, karena tak banyak orang yang terjaga di waktu seperti itu.

Setelah shalat aku membaca istighfar dan bershalawat untuk nabi masing-masing 1000 kali, lalu berdoa dengan penuh pengharapan,

“Ya, Allah.. Hamba-Mu yang hina datang kepada-Mu. Memohon ampun atas segala dosa-dosa pribadi dan dosa kedua orang tua hamba, keluarga hamba, guru-guru hamba, tema-teman hamba, dan seluruh umat muslimin baik laki-laki maupun perempuan dari bumi belahan timur sampai belahan barat yang masih hidup atau pun yang telah mendahului kami bertemu dengan-Mu.

Ya, Allah... Hamba sangat ingin mempelajari ilmu agama dengan sangat mendalam di pondok pesantren dan di MAK. Jika menurut-Mu, “bukan itu jalan bagimu saat ini”, maka hamba terima sebagai bagian dari takdir-Mu, ya Allah. Namun, hamba akan tetap memohon kepada Engkau untuk memperkenankan harapan hamba yang sudah sejak kecil dulu hamba dambakan. Hamba percaya bahwa Engkau pasti mengabulkannya, namun Engkau masih memilihkan waktu yang terbaik bagi hamba. Hamba akan terus memohon dan menunggu. Jika tidak hari ini, maka besok. Jika tidak besok, maka lusa, dan seterusnya. Dan jika bukan hal itu sekalipun, maka yang lain yang lebih baik menurut-Mu.

Ya, Allah... Dan untuk hal yang satu ini, hamba memang merasa ini tidak seharusnya hamba lakukan. Namun, hamba benar-benar mengaguminya. Akhlaknya yang begitu indah, membuat hamba tak hentinya mengucap tasbih, subhanallah. Bagaimana dia mempelajari ilmu-Mu dengan semangat api, membuat hamba terinspirasi dan termotivasi. Jika hamba boleh memohon, hamba ingin bersama dia di suatu hari kelak, belajar padanya, berjuang bersamanya untuk terus berupaya mencapai rahmat-Mu dan merasakan cinta-Mu. Akan tetapi, untuk saat ini, jagalah hati hamba tetap lebih mencintai Engkau. Menjadikan Engkau yang paling utama dari segalanya.


Recomendation

koma