Rabu, 01 September 2021

koma

#1

Entah apa yang menjadikan rasa ini selalu tertahan

apa sebab mimpi-mimpi seolah menjadi nyata jika bersama Raka?

padahal hati nyaris tak mampu membolak balik kata

hingga satu nama tak pernah luput dalam lisan dan terdoa


oh Raka,

seluruh alur memikili kesan mendalam tanpa permisi menyita segala

hijrah,

mencipta,

bahasa,

mencoba,

bisa,

dan

senyum jenaka,

obrolan kita yang menurut orang terlalu "berkelas", namun bagiku adalah penyulut asa

penampik segala khawatir untuk melangkah hingga jauh ke suatu masa

kau adalah samudra pada saat sempit dada

kau pencipta euforia kala terundung duka

dan pemantik rasa dan karsa saat seluruh medan menjadi tak terbuka


maka, hingga kini, cukup aku dan doa

pemicu takdir dapat berpaling pada pinta

yang melangitkan sejarah juang

untu pilihan takdir kita


*perempuan penikmat rindu

Rabu, 25 Agustus 2021

Merindu Purnama



Kala nyala sinar rembulan tampakkan keelokan malam

purnama menjadi teman terindah.

Di lorong masa, ada sebuah hati yang gelisah menanti pulang tiba

pulang, impian bagi resah menahun yang mulai berkarat sia-sia


ada mu di kota budaya,

sedang berpijak ku di kota mangga

dua provinsi memisah asa

mencipta ruang yang tak dapat satukan karya


tetapi ketahuilah

purnama malam ini, hanya purnama penghibur rasa

bagiku, purnama ku belumlah berpulang ke peraduan nya

masih lah ia beradu dengan juang di kota seberang

hingga waktu memutar cerita dalam naskah, dan kau pun dapat berpulang


maka, ingatlah

kau tetaplah purnama terindah

ku nanti, ku damba dalam dekap hening sajadah,

melalui jejak Tuhan di kaki malam

kulangitkan pinta agar takdir kita dapat tersulam


Paiton, 25 Agustus 2021

New Cottage_NH Lovers

Jumat, 19 April 2019

Arti persahabatan

 Dimana arti persahabatan

Oleh: perempuan penikmat rindu

 

Tentang kebersamaan yang tak pernah lagi terasa

Ada sebuah janji yang memang tak pernah terikrar sebelumnya

Maka tak dapat dituntut pula, cacatnya

Sebab wujudnya pun tak pernah ada

 

Apa arti status tanpa ada ikatan kesalingan

Tak ada rasa saling iba

tak ada rasa saling percaya

Tak ada rasa saling peduli antar sesama

 

Mungkin aku adalah minoritas

Yang terlahir dari rahim kesepian nan jauh dari pergumulan

Tetapi bukan berarti aku adalah sampah

Atas lingkungan rasa yang mungkin saling mengisi cinta

 

Sabtu, 20 April 2019

Senin, 25 Maret 2019

Memperingati Harlah Ke-70 Nurul Jadid

 Nurul Jadid Bergema


Ramai kerumun anak manusia,

Yang menanti berkah dari tempat belajarnya: Santri.

Hilir mudik mempersiapkan diri dengan nyata,

Menjelang penyambutan atas datangnya hari istimewa.

 

70 tahun usia perjuangan

10 dekade umur pengabdian

25.550 hari demi mengukir cita

Bagi keutuhan agama, bangsa dan negara

 

Panca Keasadaran sebagai landasan

Trilogi sebagai ideologi

Pancarkan cahaya rahmat Tuhan

Dengan ulur tangan berkah kiai

 

Tibalah waktu untuk mengenang kelahiran

Sumber mata air hikmah Tuhan

Tempat menggali ilmu, amal dan keberkahan

Di pesantren tempat dibimbing mengenal Tuhan

 

Selamat Hari Lahir Pondok Pesantrenku

Selamat atas perjuangan K. Zaini Mun’im, khidmatku untukmu

Selamat atas cakrawala dakwahmu

Dengan pesantren sebagai wasilah jariyahmu

 

Takkan lekang oleh waktu

Pengabdianmu kian mengalir dari anak cucumu

Penerus juang rasa cintamu

Pada kehadirat Tuhan, Allah Rabbmu

 

*perempuan penikmat rindu

Minggu, 24 Maret 2019

Tersimpan Rapi


 

Tersimpan Rapi

 

Syukur mulai memenuhi hati

Memberi rasa nikmat atas sakit yang membumi

Pinta pada Tuhan menjadi penawar pasti

Halau rintang dan resah yang menggelayuti

 

Ada banyak kisah tersembunyi di balik senyum palsu

Tetapi mata, tiada mampu berdusta

Air mata menjadi saksi haru

Tentang hati yang menutup rapat pintu rasa

 

Tak akan terungkap tanpa ada tanya

Tak akan tersingkap tanpa ada pembuka

Maftuh sebab sukar meminta

Mash’ub sebab tiada cinta


*perempuan penikmat rindu


 

Jumat, 18 November 2016

Kado Terindah (Part II)

 


@@@

“Assalamu’alaikum, permisi. Ada yang mau membeli majalah terbitan Darul Hikmah? Bak Aisyah mau beli bak?” Salah seorang anggota OSIS menawarkanku majalah, karena seperti biasa aku adalah pelanggannya, sejak kelas sepuluh, bergabung di keanggotaan OSIS, hingga ‘pensiun’ karena sudah kelas dua belas yang tentunya harus fokus pada ujian akhir yang silih berganti sebagai syarat pelulusan. Anak OSIS itu, dik Fitri. Adik kelasku.

“Wa’alaikumussalam. Iya, silakan masuk, Dek. Boleh mbak lihat dulu majalahnya sebentar?” jawabku yang sedikit penasaran karena yayasan yang dek Fitri sebut tadi adalah tempat seseorang yang kugagumi  mengabdi.

“Ada puisi karya Akhi Rahman yang ngajar kursus bahasa Arab di sini loh Mbak? Dia itu memang gak cuma lihai di bahasa Arabnya saja, tapi dia juga seorang penyair. Hebat!”

“Iya dek. Puisinya memang bagus-bagus. Selalu terbit di majalah terbitan Yayasan Darul Hikmah, baik terbitan dari pondoknya, terbitan kampusnya, dan bahkan terbitan sekolahnya waktu dia belum jadi mahasiswa, juga ada. Majalah luar pondok juga loh!”

“Oh.. jadi Mbak memang salah satu penggemar karyanya ya, bak? Wah.. Kalau benar begitu, saya punya buku antologi puisinya sewaktu masih MA dulu? Mbak mau?”

“Sungguh? Mbak memang sepertinya belum ngarsip deh. Kalau adek berkenan kasih ke Mbak, dengan senang hati Mbak akan menerimanya secara cuma-cuma. Tapi, bayar sekalipun juga gak apa-apa kok.. Hehe.”

“Oh, ngak lah Mbak. Buat bak Aisyah, gratis kok dari Fitri. Kan bak Aisyah udah bantu Fitri banyak hal. Mulai dari tanya pelajaran yang kurang paham, tanya ini-itu, dan belum lagi minta dibimbing segala macam mengenai OSIS atau lainnya. Jadi, anggap ini adalah ucapan terima kasih Fitri buat mbak Aisyah. Oke?”

“Tapi, itu kan memang sudah menjadi kewajiban Mbak sebagai yang sudah lebih dulu belajar dan berpengalaman, seperti kalian menyebut kita, kak senior.”

“Ngak. Bak Aisyah gak boleh nolak. Masak sama junior sendiri gitu sih? Ayolah bak, kan cuma buku antologi. Aku bisa pinjam ke bak Mbak Feni kok.”

“Punya yang sama?”

“Iya bak. Karena waktu itu, pas kak Fikri, kakakku, ada di rumah, dia bawa tiga buku antologi itu. Buat aku, bak Feni dan buat kak Fikri sendiri. Katanya sih, karya temennya yang paling kece.. Hihi. Ternyata orang yang kakakku maksud malah jadi tutor kita di sini. Jadi gak cuma denger, tapi liat langsung di ‘TKP’. Kece karyanya. dan, orangnya juga ternyata, hehe. Jadi bahas dia ke sana ya? Ya udah, besok antologinya Fitri bawa ya Mbak. Dan majalah yang di tangan Mbak, mau diambil?”

“Oh. Iya, iya. Berapa harga majalah ini?

“7000 Mbak, minggu depan terakhir.”

“Oke kalau begitu, Mbak ambil. Minggu depan ya..? Makasih, Dek. Dan terima kasih juga sebelumnya atas buku antologinya.”

“Sama-sama, bak Aisyah. Assalamu’alaikum.”

“Walaikumussalam.”

                                                                            @@@

Setiba di rumah, kucoba nikmati dan kubaca antologi puisi yang kudapat hari ini. Namun tiba-tiba, hatiku seperti terkesiap dan perlahan terasa nyeri. Untuk yang memiliki tanggal lahir 21 Mei 1995. Karenamu, sajak ini terlahir. Begitulah yang tertulis di lembar awal sebelum lembar demi lembar puisi disajikan. Ternyata, sudah ada yang mengisi ruang kosong di hatinya. Entah mengapa seolah batu besar menghujam, tepat di dadaku. Aku hanya bisa ber-istighfar dan bershalawat berharap sakit itu akan hilang. Namun tetap saja, perasaan itu tak hilang. Hanya sedikit mereda. Kupasrahkan semua ini pada-Mu, ya Allah...

Pelulusan sudah diumumkan dan ternyata semua siswa kelas dua belas MA Al-Ikhlas dinyatakan lulus. Kami menangis haru penuh syukur. Alhamdulillah, berkali-kali ucapan itu terlukis dari bibir kami.

Aku telah lulus, Ibu berjanji memberikan kado ketika aku lulus. Apa kira-kira ya? Pikiranku tak henti menerkanya. Aku cepat-cepat pulang untuk memberitahu kabar baik ini. Setibanya di rumah, orang-orang terlihat berkerumun di depan rumah, dan ada bendera kuning berkibar di sana. Oh tidak...

“Ibu...” aku berlari di antara kerumunan, menerobos, hingga sampailah aku di pintu. Kutemukan sebuah tubuh berbalut sampir terbujur kaku di sana. Aku mendekatinya perlahan. Bulir bening yang basah seketika dengan derasnya jatuh dari kedua kristal mataku, seperti hujan daerah tropis, begitu lebat tiada henti.

“Ibu.. Bangun, Ibu. Aisyah membawa kabar baik buat ibu.. Bu, Aisyah lulus Bu. Aisyah Lulus. Ibu janji mau kasih kado ke Aisyah.. Ayo Bu, Aisyah ingin tahu.”

“Biasanya Ibu selalu menunggu Aisyah pulang di luar. Kenapa sekarang Ibu hanya tiduran di sini? Atau Ibu belum punya kadonya ya? Ngak apa-apa kok Bu.. Gak harus sekarang kan?” Kugoyang-goyangkan tubuh Ibu, berharap dia bangun. Tapi, kepalaku terasa pening seketika. Dan kemudian, gelap.

@@@

Kurasakan tangan kananku hangat karena genggaman lembut, seperti biasanya ketika aku sakit. Pasti itu Ibu. “Ibu...” kucoba untuk bergeming dan memanggil nama Ibu. Kubuka mataku perlahan. Namun... suara lelaki terdengar jelas di telingaku, sebelum mataku benar-benar terbuka.

“Kamu gak papa, Sayang?” Kucoba memandanginya yang terlihat kurang jelas. Ayahkah? Ah, Tidak mungkin. Kugosok mataku dengan tangan kiriku. Dan ternyata...

S...sampean?” ucapku keheranan karena wajahnya yang tak asing. “Iya, ini saya Masmu, Rahman,” jawabnya. “Maksud sampean?” tanyaku heran, sambil menarik tanganku yang digenggam olehnya, kita bukan mahram, batinku.

“Begini dik Aisyah, sayang..” Sayang? Benarkah yang kudengar? “Ibumu kemarin ke rumah, beliau mengutarakan bahwa ingin memberi kado terindah untukmu. Namun sebelumnya, beliau bercerita bahwa ia dengan sengaja telah lancang membaca buku diary-mu, ibumu hanya ingin tahu keinginanmu, karena sudah sejak tiga tahun ini kau menjadi lebih tertutup. Namun, ibumu selalu mendengar kau menangis dalam sujudmu di tengah malam, bahkan sebelum beliau terjaga. Itu artinya kau mengadu sesuatu pada Tuhan. Dan Ibumu penasaran. Makanya, beliau melakukan hal itu.” Aku hanya menjawab, “lalu?” karena aku tak mengerti alur yang sesungguhnya. Akhi Syafiq melanjutkan.

“Maka dari itu, untuk memenuhi keinginan terbesarmu, yang akan dia jadikan sebagai kado untukmu, dia menyerahkan dan memasrahkanmu pada kami.”

“Menyerahkan dan memasrahkanku?”

“Iya. Beliau meminta keluarga kami untuk menikahkan Kakak dengan kamu, dan kami pun setuju. Karena sebenarnya, sejak Kakak mulai menjadi tutor di sekolahmu, Kakak melihat salah seorang siswi yang berbeda dari lainnya. Dia semangat, gigih, beretika baik dan sepertinya bercita-cita luhur. Itulah kamu, Dik. Jadi, kakak mulai tertarik padamu sejak itu, dan berjanji akan menunggumu selesai dengan pendidikanmu. Dan ternyata tak perlu menunggu waktu lama, takdir itu telah menyapa.

Dan untuk citamu yang ingin memperdalam ilmu agama. Menurut Ibumu, kakak sudah cukup mampu mengajarimu hal itu, atau bahkan jika kamu ingin melanjutkan kuliah, beliau sudah pasrah seutuhnya pada Kakak. Jadi, dua hari lalu, tepat tanggal 21 Mei 2016, pelulusanmu, akad nikah digelar di rumah ini. Ibumu sebenarnya menantimu pulang di luar bersama Kakak. Tapi beliau, pamit ke dalam untuk shalat Dhuha, “mumpung masih jam sepuluh,” begitu katanya. Dan setelah jam 11, kakak mulai gelisah karena ibumu tak kunjung keluar. Jadi, kakak mengeceknya, dan beliau sedang sujud di kamarnya. Karena sepuluh menit tetap tak kunjung keluar, Kakak menghampirinya yang dalam keadaan sujud dan... innalillahi wainna ilaihi raji’un.. Ibumu telah meninggal dunia dalam keadaan sangat baik dan Insyaallah khusnul khatimah, Dik.”

Aku hanya bisa menangis antara sedih dan bahagia. Sedih karena mulai saat ini aku akan menjalani hidup tanpa Ibu yang sangat sabar. Dan bahagia, karena kurasa Ibu sudah sangat bahagia di sisi-Nya, serta bahagia mendapat kado terindah dari Ibu, yaitu Mas Rahman dan juga dapat belajar agama mendalam sekalipun bukan di pondok pesantren langsung. Ini benar-benar kado terindah yang pernah Ibu berikan padaku. Terima kasih, Ibu..

Ya, Allah.. Aku sangat meyakini bahwa Engkau memberikan apa yang kami butuhkan. Belum tentu yang baik menurut hamba adalah baik bagi-Mu, dan juga belum tentu yang buruk menurut hamba adalah yang buruk menurut-Mu. Semua karena Engkau yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Kuhaturkan terima kasih, ya Allah.



_The End_

Recomendation

koma