@@@
“Assalamu’alaikum, permisi. Ada yang mau membeli majalah terbitan Darul Hikmah? Bak Aisyah mau beli bak?” Salah seorang anggota OSIS menawarkanku majalah, karena seperti biasa aku adalah pelanggannya, sejak kelas sepuluh, bergabung di keanggotaan OSIS, hingga ‘pensiun’ karena sudah kelas dua belas yang tentunya harus fokus pada ujian akhir yang silih berganti sebagai syarat pelulusan. Anak OSIS itu, dik Fitri. Adik kelasku.
“Wa’alaikumussalam. Iya, silakan masuk, Dek. Boleh mbak lihat dulu majalahnya sebentar?” jawabku yang sedikit penasaran karena yayasan yang dek Fitri sebut tadi adalah tempat seseorang yang kugagumi mengabdi.
“Ada puisi karya Akhi Rahman yang ngajar kursus bahasa Arab di sini loh Mbak? Dia itu memang gak cuma lihai di bahasa Arabnya saja, tapi dia juga seorang penyair. Hebat!”
“Iya dek. Puisinya memang bagus-bagus. Selalu terbit di majalah terbitan Yayasan Darul Hikmah, baik terbitan dari pondoknya, terbitan kampusnya, dan bahkan terbitan sekolahnya waktu dia belum jadi mahasiswa, juga ada. Majalah luar pondok juga loh!”
“Oh.. jadi Mbak memang salah satu penggemar karyanya ya, bak? Wah.. Kalau benar begitu, saya punya buku antologi puisinya sewaktu masih MA dulu? Mbak mau?”
“Sungguh? Mbak memang sepertinya belum ngarsip deh. Kalau adek berkenan kasih ke Mbak, dengan senang hati Mbak akan menerimanya secara cuma-cuma. Tapi, bayar sekalipun juga gak apa-apa kok.. Hehe.”
“Oh, ngak lah Mbak. Buat bak Aisyah, gratis kok dari Fitri. Kan bak Aisyah udah bantu Fitri banyak hal. Mulai dari tanya pelajaran yang kurang paham, tanya ini-itu, dan belum lagi minta dibimbing segala macam mengenai OSIS atau lainnya. Jadi, anggap ini adalah ucapan terima kasih Fitri buat mbak Aisyah. Oke?”
“Tapi, itu kan memang sudah menjadi kewajiban Mbak sebagai yang sudah lebih dulu belajar dan berpengalaman, seperti kalian menyebut kita, kak senior.”
“Ngak. Bak Aisyah gak boleh nolak. Masak sama junior sendiri gitu sih? Ayolah bak, kan cuma buku antologi. Aku bisa pinjam ke bak Mbak Feni kok.”
“Punya yang sama?”
“Iya bak. Karena waktu itu, pas kak Fikri, kakakku, ada di rumah, dia bawa tiga buku antologi itu. Buat aku, bak Feni dan buat kak Fikri sendiri. Katanya sih, karya temennya yang paling kece.. Hihi. Ternyata orang yang kakakku maksud malah jadi tutor kita di sini. Jadi gak cuma denger, tapi liat langsung di ‘TKP’. Kece karyanya. dan, orangnya juga ternyata, hehe. Jadi bahas dia ke sana ya? Ya udah, besok antologinya Fitri bawa ya Mbak. Dan majalah yang di tangan Mbak, mau diambil?”
“Oh. Iya, iya. Berapa harga majalah ini?
“7000 Mbak, minggu depan terakhir.”
“Oke kalau begitu, Mbak ambil. Minggu depan ya..? Makasih, Dek. Dan terima kasih juga sebelumnya atas buku antologinya.”
“Sama-sama, bak Aisyah. Assalamu’alaikum.”
“Walaikumussalam.”
@@@
Setiba di rumah, kucoba nikmati dan kubaca antologi puisi yang kudapat hari ini. Namun tiba-tiba, hatiku seperti terkesiap dan perlahan terasa nyeri. Untuk yang memiliki tanggal lahir 21 Mei 1995. Karenamu, sajak ini terlahir. Begitulah yang tertulis di lembar awal sebelum lembar demi lembar puisi disajikan. Ternyata, sudah ada yang mengisi ruang kosong di hatinya. Entah mengapa seolah batu besar menghujam, tepat di dadaku. Aku hanya bisa ber-istighfar dan bershalawat berharap sakit itu akan hilang. Namun tetap saja, perasaan itu tak hilang. Hanya sedikit mereda. Kupasrahkan semua ini pada-Mu, ya Allah...
Pelulusan
sudah diumumkan dan ternyata semua siswa kelas dua belas MA Al-Ikhlas
dinyatakan lulus. Kami menangis haru penuh syukur. Alhamdulillah, berkali-kali
ucapan itu terlukis dari bibir kami.
Aku
telah lulus, Ibu berjanji memberikan kado ketika aku lulus. Apa kira-kira
ya? Pikiranku tak henti menerkanya. Aku cepat-cepat pulang untuk
memberitahu kabar baik ini. Setibanya di rumah, orang-orang terlihat
berkerumun di depan rumah, dan ada bendera kuning berkibar di sana. Oh
tidak...
“Ibu...”
aku berlari di antara kerumunan, menerobos, hingga sampailah aku di pintu.
Kutemukan sebuah tubuh berbalut sampir terbujur kaku di sana. Aku
mendekatinya perlahan. Bulir bening yang basah seketika dengan derasnya jatuh
dari kedua kristal mataku, seperti hujan daerah tropis, begitu lebat tiada
henti.
“Ibu..
Bangun, Ibu. Aisyah membawa kabar baik buat ibu.. Bu, Aisyah lulus Bu. Aisyah
Lulus. Ibu janji mau kasih kado ke Aisyah.. Ayo Bu, Aisyah ingin tahu.”
“Biasanya
Ibu selalu menunggu Aisyah pulang di luar. Kenapa sekarang Ibu hanya tiduran di
sini? Atau Ibu belum punya kadonya ya? Ngak apa-apa kok Bu.. Gak harus sekarang
kan?” Kugoyang-goyangkan tubuh Ibu, berharap dia bangun. Tapi, kepalaku terasa
pening seketika. Dan kemudian, gelap.
@@@
Kurasakan
tangan kananku hangat karena genggaman lembut, seperti biasanya ketika aku
sakit. Pasti itu Ibu. “Ibu...” kucoba untuk bergeming dan memanggil nama Ibu.
Kubuka mataku perlahan. Namun... suara lelaki terdengar jelas di telingaku,
sebelum mataku benar-benar terbuka.
“Kamu
gak papa, Sayang?” Kucoba memandanginya yang terlihat kurang jelas. Ayahkah?
Ah, Tidak mungkin. Kugosok mataku dengan tangan kiriku. Dan ternyata...
“S...sampean?”
ucapku keheranan karena wajahnya yang tak asing. “Iya, ini saya Masmu, Rahman,”
jawabnya. “Maksud sampean?” tanyaku heran, sambil menarik tanganku yang
digenggam olehnya, kita bukan mahram, batinku.
“Begini
dik Aisyah, sayang..” Sayang? Benarkah yang kudengar? “Ibumu kemarin ke
rumah, beliau mengutarakan bahwa ingin memberi kado terindah untukmu. Namun
sebelumnya, beliau bercerita bahwa ia dengan sengaja telah lancang membaca buku
diary-mu, ibumu hanya ingin tahu keinginanmu, karena sudah sejak tiga
tahun ini kau menjadi lebih tertutup. Namun, ibumu selalu mendengar kau
menangis dalam sujudmu di tengah malam, bahkan sebelum beliau terjaga. Itu
artinya kau mengadu sesuatu pada Tuhan. Dan Ibumu penasaran. Makanya, beliau
melakukan hal itu.” Aku hanya menjawab, “lalu?” karena aku tak mengerti alur
yang sesungguhnya. Akhi Syafiq melanjutkan.
“Maka
dari itu, untuk memenuhi keinginan terbesarmu, yang akan dia jadikan sebagai
kado untukmu, dia menyerahkan dan memasrahkanmu pada kami.”
“Menyerahkan
dan memasrahkanku?”
“Iya.
Beliau meminta keluarga kami untuk menikahkan Kakak dengan kamu, dan kami pun
setuju. Karena sebenarnya, sejak Kakak mulai menjadi tutor di sekolahmu, Kakak
melihat salah seorang siswi yang berbeda dari lainnya. Dia semangat, gigih,
beretika baik dan sepertinya bercita-cita luhur. Itulah kamu, Dik. Jadi, kakak
mulai tertarik padamu sejak itu, dan berjanji akan menunggumu selesai dengan
pendidikanmu. Dan ternyata tak perlu menunggu waktu lama, takdir itu telah
menyapa.
Dan
untuk citamu yang ingin memperdalam ilmu agama. Menurut Ibumu, kakak sudah
cukup mampu mengajarimu hal itu, atau bahkan jika kamu ingin melanjutkan
kuliah, beliau sudah pasrah seutuhnya pada Kakak. Jadi, dua hari lalu, tepat
tanggal 21 Mei 2016, pelulusanmu, akad nikah digelar di rumah ini. Ibumu
sebenarnya menantimu pulang di luar bersama Kakak. Tapi beliau, pamit ke dalam
untuk shalat Dhuha, “mumpung masih jam sepuluh,” begitu katanya. Dan setelah
jam 11, kakak mulai gelisah karena ibumu tak kunjung keluar. Jadi, kakak
mengeceknya, dan beliau sedang sujud di kamarnya. Karena sepuluh menit tetap
tak kunjung keluar, Kakak menghampirinya yang dalam keadaan sujud dan... innalillahi
wainna ilaihi raji’un.. Ibumu telah meninggal dunia dalam keadaan sangat
baik dan Insyaallah khusnul khatimah, Dik.”
Aku
hanya bisa menangis antara sedih dan bahagia. Sedih karena mulai saat ini aku
akan menjalani hidup tanpa Ibu yang sangat sabar. Dan bahagia, karena kurasa
Ibu sudah sangat bahagia di sisi-Nya, serta bahagia mendapat kado terindah dari
Ibu, yaitu Mas Rahman dan juga dapat belajar agama mendalam sekalipun bukan di
pondok pesantren langsung. Ini benar-benar kado terindah yang pernah Ibu
berikan padaku. Terima kasih, Ibu..
Ya,
Allah.. Aku sangat meyakini bahwa Engkau memberikan apa yang kami butuhkan.
Belum tentu yang baik menurut hamba adalah baik bagi-Mu, dan juga belum tentu
yang buruk menurut hamba adalah yang buruk menurut-Mu. Semua karena Engkau yang
Maha Mengetahui segala sesuatu. Kuhaturkan terima kasih, ya Allah.
_The End_